Setelah mengajar MotherWise malam di Embong Sawo, sambil menunggu Susan berdiskusi, saya ke Gramedia. Yosa pengin beli buku. Di sana, bukan hanya Yosa yang beli buku, saya pun tidak tahan untuk tidak melongok ke deretan buku Human Resource Develepotment dan menemukan sebuah buku api karya Stuart Avery Gold berjudul Ping. Kita semua tahu siapa Avery? Dia adalah salah satu guru paling inovatif di seluruh jagad raya. Bersama Ron Rubin—dosen MBA di Saint Lousit University, John Cook School of Business—Gold berada di belakang The Republic of Tea, yaitu perusahaan yang bergerak di bidang pemberdayaan SDM. Gold menulis banyak buku apik seperti Success at Life, Dragon Spirit, Tiger Heart Tiger Mind dan Wowisms.
Seperti bukunya yang lain, Ping ditulis dengan gaya bertutur yang asyik tetapi unik dan bergizi. Begitu membuka halaman pertama, Anda akan teringat dengan tulisan Spencer Johnson dalam buku legendarisnya Who Moved My Cheese? Bedanya, Johnson menulis tentang tikus sedangkan Gold menulis tentang katak. Karena saya suka binatang ini—terutama kalau di Swikee he, he, he—saya langsung tertarik dengan cover buku Pink. Sampul buku itu mengingatkan buku saya sendiri yang terbit sebelumnya berjudul Berani Melompat Jauh. Cover designer memakai gambar katak hijau juga. Yang lebih menarik, buku saya pun memakai ilustrasi katak yang berani melompat jauh untuk mencapai tujuan.
Ping, nama katak itu, memulai perjalanan yang jauh untuk mencapai Taman Kerajaan karena kolamnya sendiri sudah mengering. Jika tikus di Who Moved My Cheese? mencari keju, Ping, mencari kolam yang bisa dia tinggali selamanya. Bukankah kita pun seringkali mencari ‘kolam’ yang baru jika ‘kolam’ lama kita mulai mengering. Sepasang suami-isteri datang kepada saya untuk konseling tentang bisnisnya. Tokonya mulai sepi. Saya doakan dengan sungguh-sungguh agar mereka mendapatkan bisnis baru. Tidak lama kemudian mereka datang dan berkata bahwa bisnis baru itu sudah mereka temukan.
Apa yang bisa kita pelajari dari buku berjudul Ping yang berkisah tentang Si Katak Ping? Pertama, setiap orang seharusnya memiliki visi pribadi dalam hidupnya. Jika burning desire di dalam dirinya cukup kuat, maka dia pasti berani meninggalkan comfort zone yang sudah bertahun-tahun dia jalani. Apalagi jika pekerjaan kita tidak lagi menghasilkan seperti yang dialami Ping, yaitu kolamnya mulai mengering. Jika dia tidak meninggalkan kolamnya, dia akan mati.
Kedua, untuk memasuki pekerjaan atau bisnis baru, kita harus mempersiapkan diri. Ada pepatah menarik. Jika murid sudah siap, guru akan muncul. Bagaimana dengan bakat? Bakat muncul secara alami, sedangkan kerampilan harus dipelajari.
Ketiga, kita butuh mentor. Ping mendapatkan mentor seekor burung hantu tua. Penggambaran yang indah karena kita tahu burung hantu memang dijadikan lambang ilmu pengetahuan. Meskipun demikian, tugas mentor hanyalah mengarahkan kita. Semua berpulang kepada diri sendiri untuk menentukan arah. Kita perlu melakukan ziarah batin. Di dunia bisnis, kita harus melakukan visibility studies bagi diri sendiri. Apa kelebihan, kekurangan dan peluang yang ada?
Keempat, pelajaran teori tidak ada gunanya tanpa kita praktikkan. Di kehidupan nyata inilah kita bisa mempraktikkan apa yang sudah kita pelajari ke kelas. Nah, Ping sudah tahu tujuannya, yaitu Taman Kerajaan. Walupun begitu, dia harus melewati Sungai Pelanting yang—menurut sejarahnya—seringkali membinasakan orang yang mencoba melewatinya. Di saat dia berhasil mengatasi halangan, si burung hantu yang mengawasinya dari atas, diterkam elang.
Buku ini ditutup dengan kesimpulan yang indah sekali oleh Ron Rubin. Simak deh: “Ping adalah kisah yang menjunjng masa lalu, memberi daya pada masa sekarang, dan dapat membentuk arah ke masa depan Anda, dengan menyodori Anda berbagai wawasan guna mengatasi tantangan hidup serta perubahan sehari-hari secara efektif.”(hal. 79). Kita yang memakai Blackberry pun pasti familiar dengan bunyi ini: “Ping! Ping! Ping!”