Saat mengantar anak ke sekolah, saya membaca halaman pertama koran Jawa Pos di kolom paling kiri bawah dengan tajuk “Ada Ada Saja”. Di bawahnya ada artikel berjudul “Jawara Miss Gembrot”. Di dalam tulisan pendek itu diceritakan tentang seorang wanita bernama Angela Scognamigilio yang difoto dengan pose mengacungkan kedua tangannya membentuk huruf V yang artinya Victory atau menang. Perempuan berusia 33 tahun itu berhak mengenakan mahkota Miss Cicciona D’Italia alias Miss Gembrot Cantik 2010 dalam kontes yang diselenggarakan di Meontecatini Termen, dekat Pisa, Italia pada hari Sabtu, 31 Juli yang lalu. Perempuan asal Naples, Napoli, itu berbobot 375 pound atau setara dengan 172 kilogram. Sconamiglio mengalahkan tiga puluh peserta lainyang sama-sama memiliki berat badan di atas 100 kilogram yang merupakan prasyarat untuk mengukuti kontes itu. Seperti kontes kecantikan pada umumnya, mereka diharuskan memakai pakaian renang dan melenggak-lenggok di atas catwalk di hadapan para juri dan 2500 penonton. Di akhir tulisannya, Jawa Pos menulis: “Pemenangnya, tentu, yang paling luwes dan tidak sampai merusak timbangan.” Ada-ada saja!
Siapa yang tidak tersenyum membaca komentar dari Jawa Pos itu? Namun, orang-orang yang bertubuh gemuk pasti tidak ikut-ikutan tersenyum. Kalaupun tersenyum, kemungkinan besar, senyuman kecut. Saya, yang punya banyak sahabat, yang bertubuh subur, bangga dengan Angela Scognamigilio. Dia benar-benar malaikat bagi kaumnya. Mengapa? Karena berani tampil apa adanya.
Kekaguman yang saya saya tujukan kepada Pendeta Gilbert Lumoindong. Saat saya diundang berkhotbah di gerejanya, saya tanya kepada pengurus, apa singkatan dari GBI Glow. Saya, tentu saja, tahu, bahwa ‘glow’ artinya bersinar. Saya bahkan punya teman di Woman Aglow. Namun, karena biasanya nama itu juga mengandung singkatan, maka saya ingin tahu. Pengurusnya langsung menjawab, “Gilbert Lumoindong Overweight!” Tentu saja saya kaget. Meskipun disampaikan dengan carabergurau, kok berani-beraninya berkata seperti itu. “Singkatan itu Pak Gilbert sendiri kok yang mengatakannya,” katanya disertai senyuman lebar. Nah, saat Pak Gilbert berkhotbah di Ladies Anniversary saya semakin yakin bahwa gurauan itu memang berasal dari Pak Gilbert sendiri. Orang besar bukanlah orang yang berbadan besar tetapi yang berjiwa besar dan mau tampil apa adanya. Pada kesempatan itu dia menjelaskan prosesnya sehingga berat badannya turun 47 kilogram.
Bagi saya, gemuk atau kurus—kalau itu alami—harus kita syukuri. Mengapa? Karena gemuk atau kurus juga ada faktor genetika. Jika kedua orangtuanya gemuk, ada kecenderungan anaknya ikut gemuk. “Tulangnya sudah besar,” ujar isteri saya. Oleh sebab itu, saya selalu memberi semangat kepada orang-orang yang gemuk untuk tidak minder. Mengapa harus minder? Toh gemuk juga bisa tampan dan cantik. Buktinya ya Angela Scognamigilio. Kita pun mengenal Huges yang cantik, sehingga menjadi iklan berbagai produk. Bukan hanya itu, orang-orang bertubuh besar yang mencoba menguruskan badan dan berhasil belum tentu lebih menarik daripada sebelumnya.
Saya setuju diet jika orang itu gemuk karena terlalu banyak makan, sehingga mengalami obesitas. Waktu saya masih melayani di Aussie, saya baca bahwa 1 di antara 4 orang Melbourne itu obesitas. Benar tidaknya saya tidak tahu. Yang jelas, di Australia ada rumah sakit yang khusus untuk orang-orang berbadan subur ini. Ranjangnya dibuat khusus agar tidak patah saat ditiduri. Jadi, pemerintah pun sudah mengakomodasi orang-orang yang punya kelebihan berat badan.