Advertisement
Wednesday, 10 March 2010


ROTI GOSONG & KENCING HITAM Print E-mail
Written by MANAJEMEN HFC   
Monday, 15 February 2010

Ketika aku masih anak perempuan kecil, ibu suka membuat sarapan dan makan malam. Dan suatu malam, setelah membuat sarapan, bekerja keras sepanjang hari, malamnya ibu menghidangkan sebuah piring berisi telur, saus dan roti panggang yang gosong di depan meja ayah.

Saya ingat, saat itu menunggu apa reaksi dari orang-orang di situ! Akan tetapi, yang dilakukan ayah adalah mengambil roti panggang itu, tersenyum pada ibu, dan menanyakan kegiatan saya di sekolah.
Saya tidak ingat apa yang dikatakan ayah malam itu, tetapi saya melihatnya mengoleskan mentega dan selai pada roti panggang itu dan menikmati setiap gigitannya!

Ketika saya beranjak dari meja makan malam itu, saya mendengar ibu meminta maaf pada ayah karena roti panggang yang gosong itu. Dan satu hal yang tidak pernah saya lupakan adalah apa yang ayah katakan: "Sayang, aku suka roti panggang yang gosong."

Sebelum tidur, saya pergi untuk memberikan ciuman selamat tidur pada ayah. Saya bertanya apakah ayah benar-benar menyukai roti panggang gosong. Ayah memeluk saya erat dengan kedua lengannya yang kekar dan berkata, "Debbie, ibumu sudah bekerja keras sepanjang hari ini dan dia benar-benar lelah. Jadi sepotong roti panggang yang gosong tidak akan menyakiti siapa pun!"

Apa yang saya pelajari di tahun-tahun berikutnya adalah belajar untuk menerima kesalahan orang lain, dan memilih untuk merayakan perbedaannya - adalah satu kunci yang sangat penting untuk menciptakan sebuah hubungan yang sehat, bertumbuh dan abadi.

Kisah menyentuh yang dikirimkan seorang sahabat lewat Blackberry Message itu sungguh memberkati saya. Apalagi saya membacanya setelah mengajar MotherWise 2, program yang indah sekali untuk para ibu. Firman Tuhan yang berkata bahwa kasih itu menutupi segala sesuatu jadi lebih bermakna setelah membaca kisah di atas. Kita seringkali hanya bisa menyalahkan pasangan kita untuk hal-hal kecil, sedangkan hal-hal positif yang mereka lakukan bagi kita bagai uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap. Itulah sebabnya mengapa Yesus dengan keras menegur kita, “Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu. Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu” (Matius 7:4-5).

 

Seorang isteri dosen pernah mengeluh kepada saya bahwa suaminya seorang perokok berat. “Berulangkali saya mengingatkannya untuk berhenti, tetapi dia tidak menggubris saya,” ujarnya. Saya tahu niat ibu ini baik, tetapi dia melupakan satu hal. Jika suaminya kecanduan rokok, dia pun kecanduan kopi. “Jika saya tidak minum kopi, saya pusing,” ujarnya. Seorang temannya bahkan pernah berkata, “Kalau kencingmu hitam, baru kamu berhenti.” Artinya, kopi sudah mengikatnya. Jika kita minum kopi dalam batas yang wajar, tentu oke-oke saja. Saya pun kadang masih minum kopi di Starbuck.

 

Firman Tuhan tidak pandang bulu. Apa pun yang membuat kita kecanduan, apalagi sampai terikat, harus kita lepaskan. Rasul Paulus katakan dengan tegas, “Segala sesuatu halal bagiku, tetapi bukan semuanya berguna. Segala sesuatu halal bagiku, tetapi aku tidak membiarkan diriku diperhamba oleh suatu apa pun” (1 Korintus 6:12). Seorang jemaat berkata, bahwa game online sudah mengikatnya dan dia ingin melepaskannya!

Nah, bagaimana sikap terbaik? “Saudara-saudara, kalaupun seorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, maka kamu yang rohani, harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut, sambil menjaga dirimu sendiri, supaya kamu juga jangan kena pencobaan” (Galatia 6:1).

 
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>

Results 4 - 4 of 61
Program Ibadah