Advertisement
Wednesday, 10 March 2010


BE 100% Print E-mail
Written by Pdm. DR. Xavier Quentin Pranata, MA   
Monday, 12 January 2009

Di akhir tahun lalu, saya berkhotbah dengan tema resolusi tahun baru. Kini kita sudah memasuki tahun baru itu. Apakah kita masih setia dengan resolusi kita? Ya? Bagus! Tidak? Apa alasannnya? Seringkali kita gagal melakukan apa yang menjadi tekad kita karena kecenderungan kita untuk menyalahkan orang lain atau sikon jika segala sesuatu tidak berjalan sesuai yang kita inginkan.

Mau bukti? “Saya tidak bisa jadi dokter karena biaya kuliah mahal dan saya anak orang miskin.”; “Saya tidak naik tingkat karena dosen saya sentimen terhadap saya.”; “Saya masih melajang sampai saat ini karena tidak ada orang yang cocok dengan saya.”; “Saya menjadi pengangguran bukan karena saya malas, tetapi tidak ada lowongan pekerjaan bagi saya.” Apakah saya masih harus memperpanjang daftar ini?

Jika kita menelisik jauh ke relung hati kita yang paling dalam, kita harus mengakui bahwa sebagian besar kegagalan kita karena diri kita sendiri, bukan orang-orang di luar kita atau sikon di sekitar kita. Itulah sebabnya saya setuju dengan pendapat filsuf binis nomor satu Amerika Jim Rohn yang berkata, “Anda harus bertanggungjawab atas kehidupan Anda. Anda tidak bisa mengubah keadaan, musim, atau angin, tetapi bisa mengubah diri Anda sendiri.”

Saya beri contoh. Suatu hari Minggu, misalnya, Anda sedang sarapan di meja makan dan bersiap untuk ke gereja. Tanpa disengaja, anak Anda menjatuhkan sendoknya ke piring yang penuh saos tomat. Sekejap saja baju Anda ternoda oleh saus merah menyala itu. Anda bentak anak Anda. Dia menangis dan meninggalkan meja makan tanpa menyelesaikan makan paginya. Isteri Anda berusaha membujuk anak itu untuk meneruskan makannya. Akibatnya, waktu untuk ke gereja mepet. Karena masih jengkel, Anda mengendarai mobil dengan kecepatan tingggi. Tiba-tiba dari sebuah gang muncul seorang penjual sate dan Anda tidak sempat menginjak rem, sehingga rombong sate orang itu terlanggar. Anda harus membayar ganti rugi dan Anda terlambat datang ke gereja.

Mari kita ganti skenarionya. Anda sarapan pagi dan anak Anda menjatuhkan sendok ke piring saos. Anda jengkel, tetapi Anda memilih untuk tetap tenang. Anda masuk ke kamar, ganti baju dan meneruskan sarapan sambil berkata, “Lain kali hati-hati ya Nak!” Anak Anda tersenyum dan berkata, “Sorry ya, Pa.” Anda berangkat ke gereja dengan hati yang lega.

Peristiwa yang sama bisa berakhir dengan berbeda. Di mana letak perbedaannya? Dari reaksi kita atas ‘kecelakaan kecil’ di atas meja makan. Di dalam kehidupan kita di muka bumi ini, aksi dan reaksi itu terus-menerus terjadi setiap saat. Reaksi kita terhadap aksi itulah yang menentukan berhasil tidaknya hidup kita.

Sayangnya, malangnya, seringkali kita menyadari kesalahan reaksi kita terhadap suatu peristiwa setelah nasi menjadi bubur. Di dalam bukunya Just The Way I Am, Billy Graham pernah menceritakan perjumpaannya dengan John. F. Kennedy, Presiden Amerika Serikat ke-35 itu suatu kali sarapan pagi bersama “Penginjil Semilyar Umat” ini. Selesai breakfast, Kennedy meminta Billy Graham, singgah sebentar di Gedung Putih karena ada urusan rohani yang ingin dia bahas. Karena flu, Billy Graham menolak halus. “Toh kita masih akan bertemu lagi,” ujarnya.

Sejarah bicara berbeda. Pertemuan itu tidak pernah terjadi karena Kennedy mati dibunuh. Billy Graham menyesali sikapnya dulu.

Pada tahun baru ini, marilah kita—seperti iklan sebuah minuman energi—Be 100%. Kita harus bertanggungjawab atas hidup kita sendiri dan tidak menyalahkan orang lain, apalagi Tuhan. Mari minta Tuhan memberkati kita agar melalui tahun ini bersama-Nya! (Xavier).

 

Last Updated ( Friday, 09 January 2009 )
 
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>

Results 5 - 5 of 61
Program Ibadah