Advertisement
Tuesday, 09 February 2010


Mencuri kemuliaan Tuhan

 

Kisah ini terjadi di Rusia. Seorang ayah yang memiliki putra yang berusia kurang lebih 5 tahun, memasukkan  putranya tersebut ke sekolah musik untuk belajar piano. Ia rindu melihat anaknya kelak menjadi seorang pianis yang terkenal.

Selang beberapa waktu kemudian, di kota tersebut datang seorang pianis yang sangat terkenal. Karena ketenarannya, dalam waktu singkat tiket konser telah terjual habis. Sang ayah membeli 2 buah tiket pertunjukan, untuk dirinya dan anaknya.

Pada hari  pertunjukan, satu jam sebelum konser dimulai, kursi telah terisi penuh. Sang ayah duduk dan putranya tepat berada di sampingnya. Seperti layaknya seorang anak kecil, anak ini pun tidak betah duduk diam terlalu lama.  Tanpa sepengetahuan ayahnya, ia menyelinap pergi.

Ketika lampu gedung mulai diredupkan, sang  ayah terkejut saat menyadari bahwa putranya tidak ada di sampingnya. Ia lebih  terkejut lagi ketika melihat anaknya berada dekat panggung pertunjukan, dan sedang berjalan menghampiri piano yang akan dimainkan pianis tersebut.

 

Didorong oleh rasa ingin tahu, tanpa takut anak tersebut duduk di depan piano dan mulai memainkan sebuah lagu, lagu yang sederhana, “Twinkle-twinkle little star.”

 

Operator lampu sorot, yang terkejut mendengar adanya suara  piano mengira bahwa konser telah dimulai tanpa aba-aba terlebih dahulu, dan ia  langsung menyorotkan lampunya ke tengah panggung. Seluruh penonton terkejut melihat yang berada di panggung bukan sang pianis, tapi hanyalah seorang anak kecil.

Sang pianis pun terkejut, dan bergegas naik ke atas panggung. Melihat anak tersebut, sang pianis tidak menjadi marah, ia tersenyum dan berkata, "Teruslah bermain" dan sang anak yang mendapat izin, meneruskan permainannya. Sang pianis lalu duduk di samping anak itu dan mulai bermain mengimbangi permainan anak itu. Ia mengisi semua kelemahan permainan anak itu dan akhirnya tercipta suatu komposisi permainan yang sangat  indah. Mereka seakan menyatu dalam permainan piano  tersebut.

 

Ketika mereka berdua selesai, seluruh penonton menyambut dengan  meriah, karangan bunga dilemparkan ke tengah panggung. Sang anak jadi besar kepala, pikirnya, "Gila, baru belajar piano sebulan saja sudah hebat!" Ia lupa  bahwa yang disoraki oleh penonton adalah sang pianis yang duduk di sebelahnya,  mengisi semua kekurangannya dan menjadikan permainannya sempurna.

 

Kisah inspiratif yang dikirimkan Vera kepada saya itu mengajar kita untuk tidak melupakan siapa Tuhan kita saat pelayanan. Pada saat diminta untuk berdoa bagi panitia Natal, saya berdoa agar semua panitia memiliki motivasi yang benar di dalam pelayanan. Sikap hari yang baik bisa kita teladani dari Yohanes. Saat Yesus belum muncul ke panggung pelayanan, Yohanes lebih dulu mendapatkan tempat yang luar biasa. Meskipun kata-katanya keras, to the point, dan seringkali menempelak banyak orang, termasuk orang-orang Farisi dan orang-orang Saduki, Yohanes segera saja mendapatkan popularitas puncak. Namun, saat Yesus muncul dan minta dibaptis apa yang Yohanes katakan katakan kepada orang banyak? “Aku membaptis kamu dengan air sebagai tanda pertobatan, tetapi Ia yang datang kemudian dari padaku lebih berkuasa dari padaku dan aku tidak layak melepaskan kasut-Nya. Ia akan membaptiskan kamu dengan Roh Kudus dan dengan api” (Matius 3:11). Pernyataannya itu ditegaskan dengan inti pelayanannya: “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil” (Yohanes 3:30). Jika kita bisa memiliki sikap hati seperti Yohanes, percayalah, pelayanan kita akan menjadi dupa yang harum di hadapan Tuhan.

 
<< Awal < Sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Berikutnya > Akhir >>

Hasil 5 - 5 dari 101
Program Ibadah
Pengunjung: 20697876