Advertisement
Friday, 10 September 2010


BERSYUKUR WALAU HANCUR

Belakangan ini, baik pada waktu saat teduh, membaca buku, mendengar keluhan jemaat, Tuhan ingatkan saya akan satu ayat yang indah tetapi sekaligus tidak mudah dipahami: “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu” (1 Tesalonika 5:18). Frase ‘mengucap syukurlah’ yang berasal dari kata ‘eukharisteite’ merupakan kata kerja imperatif (perintah) dengan penggolongan waktu ‘present tense’ artinya ‘sekarang’. Itulah sebabnya, mengapa frase itu dilanjutkan dengan frase ‘dalam segala hal’.

Ketika saya, dalam kondisi sakit, mencoba mengucap syukur, saya merasakan kelegaan yang luar biasa. Saya tidak bersyukur karena saya sakit. Ini aneh namanya. Namun, saya bersyukur bahwa ketika saya sakit, saya masih didampingi oleh orang-orang yang mengasihi saya: isteri saya, anak-anak saya. Orang-orang dekat dengan saya pun memberikan dukungan yang amat baik. Gembala meminta saya mengirim sms ke Dokter Sardjono, yang langsung menelpon saya begitu sms saya masuk. Dave yang membelikan saya obat. Ena yang memberi saya obat Tiongkok.

Bukan hanya itu, jika kita kehilangan sesuatu—termasuk kesehatan—ketimbang memikirkan apa yang hilang atau tidak berfungsi, lebih baik memikirkan semua hal yang masih ada dan berfungsi.
Saya baru sakit, belum hancur. Mari kita lihat Ayub. Apa yang dia katakan ketika dia kehilangan anak, harta, bahkan kesehatannya: “Maka berdirilah Ayub, lalu mengoyak jubahnya, dan mencukur kepalanya, kemudian sujudlah ia dan menyembah, katanya: "Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!" Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dan tidak menuduh Allah berbuat yang kurang patut” (Ayub 1:20-22).

Berbeda dengan Ayub, isterinyalah yang justru bebuat dosa, menuduh Allah dan bersikap kurang patut. Isteri Ayub adalah tipe isteri yang berkata, “Ada uang, abang kusayang; tidak ada uang abang kutendang!” Lihat komentarnya dan perintahnya kepada Ayub: “Maka berkatalah isterinya kepadanya: "Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu? Kutukilah Allahmu dan matilah!"” (Ayub 2:9).

Sekali lagi, Ayub menunjukkan orang yang dewasa di dalam iman. Ayub tidak mau terprovokasi oleh hasutan isterinya. Dia tetap setia kepada Allah yang setia: “ Tetapi jawab Ayub kepadanya: "Engkau berbicara seperti perempuan gila! Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?" Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya” (Ayub 2:10).

Ketika saya menulis renungan ini, saya sedang mendoakan orang-orang yang sedang ‘hancur’. Ada seorang ibu yang berdoa puasa agar bisnis anaknya bangkit kembali. Ada seorang ibu yang menderita sakit yang serius. Ada seorang hamba Tuhan yang diperlakukan tidak adil oleh organisasi gereja tempatnya bernaung. Seorang ibu yang sakit parah, mengirimkan sms kepada saya yang berbunyi: “Pak Xavier, saya kadang merasa capek, lelah dan bingung dalam menghadapi hidup ini. Namun, saya sungguh bersyukur memiliki Tuhan!”

Inilah kuncinya: “Memiliki Tuhan!” Jika semua yang ada pada kita sudah habis, kita masih memiliki Tuhan dan itu cukup bagi kita. Jika kita kehilangan segala sesuatu, kita kehilangan banyak. Namun, jika kita kehilangan Tuhan, kita kehilangan semuanya!

Jadi, meskipun Tuhan tampak bungkam, bukan berarti dia diam. Ketika perang dunia ke-2, ada seorang tahanan di penjara Cologne, Jerman, yang menulis puisi ini:

I believe in the sun
Even when it is not shining
I believe in love
Even when I feel it not
I believe in God
Even when he is silent

 
<< Start < Prev 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 Next > End >>

Results 62 - 62 of 87
Program Ibadah