Advertisement
Monday, 06 September 2010


TERMOMETER ATAU TERMOSTAT

Banyak istilah asing yang berseliweran di sekitar kita, terutama istilah-istilah teknis. Di antara sekian banyak istilah asing, ada dua istilah yang menarik. Yang pertama adalah termometer. Apa itu termometer? Termometer berasal dari kata ‘therma’ yang artinya panas dan ‘meter’ yang merupakan satuan ukuran. Jika digabung maka artinya alat pengukur panas.

Sedangkan termostat justru alat pengatur panas. Di sebuah majalah kepemimpinan, saya pernah melihat gambar kartun yang menarik. Tampak dalam gambar seorang pendeta sedang berkhotbah di atas mimbar. Temanya tentang neraka. Di balik dinding bagian belakang, seorang pengerja gereja sedang menaikkan suhu ruangan dengan termostat agar suasana neraka bisa dirasakan jemaat.

Nah, di HFC Jogja, ada fenomena menarik. Setiap kali Daud dan kawan-kawannya datang, maka suasana ibadah—terutama pujian dan penyembahan—jadi terasa lebih hidup. Mengapa? Karena kelompok ini memuji Tuhan dengan sangat bergairah. Saya perhatikan, worship leader dan singers pun ikut bergairah setiap kali kelompok ini datang. Akibatnya, jemaatnya pun jadi lebih bersemangat memuji, menyembah dan memuliakan Tuhan.

Di dalam kehidupan Kristen, kita bisa menjadi termometer atau termostat. Kita bisa menjadi orang yang mengukur atau menilai seseorang. Di gereja mana pun ada orang-orang yang seperti ini. Dia sangat kritis. Apa saja dinilainya. Masih mending jika penilaiannya positif. Namun, banyak yang hanya mencari kekurangan. Usher tidak bisa tersenyum, pemain musik bermain terlalu keras, pengkhobahnya membosankan dan lain sebagainya. Kritikan itu berguna untuk introspeksi. Namun, jika hanya bisa melontarkan kritik tanpa pernah memberikan masukan yang membangun, cepat atau lambat baik yang mengkritik maupun yang dikritik justru akan frustrasi. Yang jelas, saya pribadi belum pernah menyaksikan patung atau tugu peringatan yang dibangun dan didirikan untuk seorang pengritik.

Sebaliknya, ada jemaat yang bisa berperan sebagai termostat. Seperti Daud dan kawan-kawan, tipe jemaat seperti ini selalu ‘menyemangati’ atau ‘memberi semangat’ agar kita bisa bekerja dan melayani lebih baik lagi. Saya mengenal bapak dan ibu yang selalu saja memberikan masukan yang positif kepada saya. “Pak, tadi kok khotbahnya agak kaku. Bapak tegang ya? Saya percaya, Bapak bisa melakukan yang lebih baik!” ujar seorang bapak. “Wah, hari ini khotbah Bapak sangat memberikati saya. Terus bersemangat ya Pak,” ujar seorang ibu yang rajin sekali beribadah di HFC. Nah, meskipun kedua komentar di atas berbeda, tetapi keduanya membangun.

Bagaimana kita bisa membedakan apakah masukan itu hanya iseng, mencari-cari kesalahan atau justru untuk membangun? Dari motivasi yang menyampaikannya. Meskipun kita tidak bisa mengetahui motivasi seseorang seperti halnya Tuhan, tetapi kita bisa ‘merasakan’ dari caranya mengatakannya. “Saudara-saudara, kalaupun seorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, maka kamu yang rohani, harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut, sambil menjaga dirimu sendiri, supaya kamu juga jangan kena pencobaan” (Galatia 6:1).
Mari kita jadikan ayat firman Tuhan ini sebagai pedoman di dalam berinteraksi dengan sesama: “Sebab itu marilah kita mengejar apa yang mendatangkan damai sejahtera dan yang berguna untuk saling membangun” (Roma 14:19). Nah, mau jadi termometer atau termostat?
Xavier Quentin Pranata

 
<< Start < Prev 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 Next > End >>

Results 63 - 63 of 87
Program Ibadah