Advertisement
Friday, 10 September 2010


INGKAR JANJI

Belakangan ini kita menyaksikan di televisi atau melihat langsung di lapangan, banyak orang—terutama yang mengadakan demonstrasi. Mereka mengusung agenda yang sama: “Menolak harga BBM”. Di antara spanduk yang ada, mereka menyuarakan ketidakpuasan dengan pemerintah yang sekarang. Bukan hanya itu, mereka menuduh bahwa penguasa saat ini ingkar janji.

Di dalam pernikahan pun, kita sering ingkar terhadap janji pernikahan yang kita ikrarkan di depan pendeta dan umat Tuhan. Itulah sebabnya, di samping mempersiapkan khotbah tentang pernikahan, saya juga wanti-wanti kepada calon pengantin yang datang kepada saya untuk konseling pranikah. “Kalian berdua bukan berjanji kepada manusia saja, tetapi—dan terutama—kepada Tuhan.

Saya pun jujur saja pernah ingkar janji di dalam berbagai hal di dalam kehidupan saya. Misalnya, janji untuk bepergian dengan anak saya. Karena kesibukan yang luar biasa, saya kadang-kadang saya tidak bisa memenuhi janji saya untuk mengantar anak saya bermain. Dengan isteri? Pasti ada. Isteri saya pasti bisa bercerita berapa kali saya ingkar janji. Kepada teman pun pasti ada.

Bagaimana kalau pihak lain yang ingkar janji kepada saya? Pasti ada juga. Ada yang menjanjikan ini dan itu, ternyata tidak terjadi. Namun, lebih baik tidak menceritakan di sini siapa saja yang pernah ingkar janji kepada saya. Bukankah lebih baik mengakui kesalahan sendiri daripada menunjukkan kesalahan orang lain? Toh saya pun tidak luput dari kesalahan itu.

Itulah sebabnya Tuhan memperingatkan kita—saya dan Anda—untuk berhati-hati memakai mulut, lidah dan bibir kita. Lebih baik tidak berjanji—apalagi mengobral janji—ketimbang bejanji dan tidak menepati. Jika mahasiswa sering berdemonstrasi menuntut pemerintah memenuhi janjinya, kita seharusnya lebih berhati-hati lagi, karena Tuhan ada saat kita berjanji.

Bagaimana dengan nazar? Saya pernah khotbah di HFC Barat—waktu itu masih di Hotel Satelit—dengan tema ini. Nazar yang kita ucapkan harus kita bayar, karena mengandung konsekuensi. Karena itu, jangan bernazar jika nazar kita sulit kita lakukan. Jangan pula bernazar yang sepele. Misalnya, anak-anak SMA yang bernazar jika lulus SMA akan menggundul rambutnya? Untuk apa? Bukankah lebih baik memangkas perilaku yang tidak baik: misalnya mencorat-coret dinding sekolahan atau dinding orang lain; menyemprot baju seragam dengan cat atau spidot warna-warni. Bukanlah lebih bijak jika baju itu diberikan kepada adik-adik kelas yang masih membutuhkan. Dengan kenaikan harga BBM, pasti banyak orang tua yang sulit sekali membelikan seragam bagi anak-anaknya.

Mari belajar dari merpati. Kita mungkin pernah mendengar lagu atau menyaksikan filmnya di televisi: “Merpati Tidak Pernah Ingkar Janji”. Benarkah? Saya tidak tahu. Saya belum pernah menyaksikan atau mendengar burung merpati berjanji. Di samping itu, kalaupun mereka berjanji, saya juga tidak bisa mengerti bahasa binatang. Salomo—yang konon bisa memahami bahasa binatang pun—menurut saya belum pernah mewawancarai burung merpati. Namun, ada pelajaran indah yang bisa kita petik.

Pertama, burung merpati kalaujalan sebentar-sebentar berhenti. Untuk apa? Sebenarnya untuk menfokuskan kembali pandangannya. Namun, bisa juga dia sedang melakukan introspeksi. Siapa tahu? Kedua, burung merpati tidak memiliki empedu, sehingga tidak mengalami kepahitan kalau ada pihak lain yang ingkar janji kepadanya. Itulah sebabnya mengapa kita diminta firman Tuhan untuk tulus seperti merpati. Mari kita renungkan, apakah kita pernah berjanji terhadap seseorang? Dalam hal apa? Sudahkan kita memenuhi janji kita? (Xavier Quentin Pranata).
 

 
<< Start < Prev 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 Next > End >>

Results 64 - 64 of 87
Program Ibadah