Advertisement
Monday, 06 September 2010


The Power of Thinking

Ada satu buku klasik terbitan tahun 1902 berjudul As A Man Thinketh karya James Allen. Meskipun terbit lebih dari satu abad yang lalu, buku ini masih memberikan pencerahan kepada setiap orang yang membacanya. Karena begitu dahsyatnya buku ini, sehingga terbit versi barunya As You Think karya Marc Allen dan As A Woman Thinketh yang diedit oleh Doroty Hulst. Begitu hebatnya pikiran mempengaruhi hidup manusia, sehingga banyak buku ditulis tentang pikiran seperti The Power of Your Subconscious Mind karya Joseph Murphy, The Game of Life and How to Play It besutan Florence Scovell Shinn. Di rak buku saya masih ada beberapa buku tentang kekuatan pikiran, salah satunya buku saya sendiri You Are What You Think.

Apa sih hebatnya sebuah pikiran? Pertama, otak kita Tuhan yang menciptakan, sehingga kekuatannya tidak diragukan lagi. Sekadar contoh, seorang pakar otak, Prof. Asimov dari Rusia, memperkirakan bahwa orang yang pintar sekalipun hanya menggunakan otaknya kurang dari 5 persen. Artinya? Masih besar sekali kapasitas otak kita yang belum kita eksplorasi. Kedua, apa yang ada di dalam pikiran kita seringkali menunjukkan siapa diri kita. Jika kita memikirkan hal-hal yang positif, maka yang keluar dari diri kita adalah hal-hal yang positif. Sebaliknya, jika kita mengeluarkan hal-hal yang negatif, maka yang negatiflah yang akan keluar. Itulah sebabnya ada buku The Power of Positive Thinking karya Norman Vincent Peale yang diikuti terbitnya buku Power of Positive Doing tulisan Ivan Burnell. James Allen katakan, “Pikiran yang tindakan yang baik tidak akan pernah membuahkan hasil yang buruk; pikiran dan tindakan yang buruk tidak akan membuahkan hasil yang baik!” Itulah sebabnya mengapa Alkitab katakan, “Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu” (Filipi 4:8). Ketiga, kita memiliki kecenderungan untuk mengubah lingkungan dan orang lain. Padahal, seringkali diri kitalah yang membuat lingkungan kita menjadi buruk dan tidak nyaman untuk didiami. Coba pikirkan, apakah kita berani berjalan kaki sendiri pada jam 2 dini hari di daerah angker di Surabaya? Padahal, saya tidak takut sama sekali berjalan seorang diri pada jam itu di Singapura. Kita merasa orang lainlah yang jahat, padahal orang lain berpikir kitalah yang jahat. Jadi, daripada mencoba mengubah orang lain, lebih baik mengubah diri sendiri dan itu harus dimulai dengan cara berpikir kita. Keempat, karena kita tidak bisa mengandalkan kekuatan diri kita sendiri untuk menaklukkan pikiran kita, maka kita harus menaklukkannya di bawah kaki Kristus. “Kami mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus, dan kami siap sedia juga untuk menghukum setiap kedurhakaan, bila ketaatan kamu telah menjadi sempurna” (2 Korintus 10:5-6). Kelima, jika sekarang orang senang melakukan detox untuk membersihkan racun dari tubuh jasmani kita, marilah kita melakukan detox untuk rohani kita. Dan itu bisa kita mulai dengan membersihkan pikiran kita. Setuju?

 
<< Start < Prev 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 Next > End >>

Results 69 - 69 of 87
Program Ibadah