Advertisement
Wednesday, 10 March 2010


Yesus Peduli Print E-mail
Written by Ludi Andrianto   
Sunday, 14 December 2008

 

Sebuah pet shop atau pet store alias toko hewan peliharaan, memasang papan iklan yang menarik bagi anak-anak kecil, “Dijual anak anjing”. Segera saja seorang anak lelaki datang, masuk ke dalam toko dan bertanya, “Berapa harga anak anjing yang Anda jual itu?” Pemilik toko itu menjawab, “Harganya berkisar antara 30-50 dollar.”

Anak lelaki itu lalu merogoh saku celananya dan mengeluarkan beberapa keping uang, “Aku hanya mempunyai 2,37 Dollar, bisakah aku melihat-lihat anak anjing yang anda jual itu?”

Pemilik toko itu tersenyum. Ia lalu bersiul memanggil anjing-anjingnya. Tak lama dari kandang anjing munculah anjingnya yang bernama Lady yang diikuti oleh lima ekor anak anjing. Mereka berlari-larian di sepanjang lorong toko. Tetapi, ada satu anak anjing yang tampak berlari tertinggal paling belakang.

Si anak lelaki itu menunjuk pada anak anjing yang paling terbelakang dan tampak cacat itu dan bertanya, “Kenapa dengan anak anjing itu?”

Pemilik toko menjelaskan bahwa ketika dilahirkan, anak anjing itu mempunyai kelainan di pinggulnya, dan akan menderita cacat seumur hidupnya.

Anak lelaki itu tampak gembira dan berkata, “Aku beli anak anjing yang cacat itu.”

Pemilik toko itu menjawab, “Jangan, jangan beli anak anjing yang cacat itu. Tapi jika kau ingin memilikinya, aku akan berikan anak anjing itu padamu secara gratis.”

Anak lelaki itu kecewa. Ia menatap pemilik toko itu dan berkata, “Aku tak mau kau memberikan anak anjing itu dengan cuma-cuma padaku. Meski cacat anak anjing itu tetap mempunyai harga yang sama sebagaimana anak anjing yang lain. Aku akan bayar penuh harga anak anjing itu. Saat ini aku hanya mempunyai 2,35 dollar. Tetapi setiap hari akan akan mengangsur 0,5 dollar sampai lunas.”

Tetapi lelaki itu menolak, “Nak, kau jangan membeli anak anjing ini. Dia tidak bisa berlari cepat. Dia tidak bisa melompat dan bermain sebagaimana anak anjing lainnya.”

Anak lelaki itu terdiam. Lalu ia menarik ujung celana panjangnya. Dari balik celana itu tampaklah sepasang kaki yang cacat. Ia menatap pemilik toko itu dan berkata, “Tuan, aku pun tidak bisa berlari dengan cepat. Aku pun tidak bisa melompat-lompat dan bermain-main sebagaimana anak lelaki lain. Oleh karena itu aku tahu, bahwa anak anjing itu membutuhkan seseorang yang mau mengerti penderitaannya.”

Kini pemilik toko itu menggigit bibirnya. Air mata menetes dari sudut matanya. Ia tersenyum dan berkata, “Aku akan berdoa setiap hari agar anak-anak anjing ini mempunyai majikan sebaik engkau.”

Kisah mengharukan yang Anita kirimkan kepada saya via email itu mengingatkan kepada kita bahwa di hadapan Tuhan, kita semua sama. Tuhan tidak pernah melihat fisik. Dia melihat hati.

Bukan hanya itu. Kita pun belajar dari anak yang kakinya cacat itu. Dia bisa lebih memahami anak anjing yang cacat itu karena dia sendiri memiliki keterbatasan seperti itu. Kita tidak perlu menunggu untuk menjadi cacat untuk bisa memahami orang cacat. Yesus memberikan teladan yang dahsyat. Dia adalah Tuhan yang tidak terbatas, tetapi mau turuh ke bumi dan menjadi manusia yang sangat terbatas. “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus,  yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,  melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia” (Filipi 2:5-7).

Saya mempunyai sahabat-sahabat yang kakinya cacat, tetapi mereka justru melesat. Seorang sahabat saya yang tinggal di Jogja justru menjadi seorang pengajar dan pengkhotbah yang hebat. Bekas teman sekerja saya di penerbitan buku menderita polio sehingga kakinya cacat, tetapi dia selalu murah senyum dan bisa bermain musik dengan baik. Saat saya memimpin KKR, dia yang mengiringinya. Seorang sahabat saya yang tinggal di Jakarta duduk di atas kursi roda, tetapi dia sudah menghasilkan beberapa buku. Ketika berkhotbah di Living Grace Foundation, Australia, seorang ibu membawa seorang gadis kecil yang buta. Dia meminta saya untuk mendoakannya agar anaknya dipakai Tuhan. Kini gadis itu telah menjadi remaja yang tidak saja pandai bermain piano, tetapi juga memiliki suara emas. Bagaimana dengan kita? (Xavier)

 
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>

Results 9 - 9 of 61
Program Ibadah