Advertisement
Wednesday, 10 March 2010


BUMERANG Print E-mail
Written by Pdm. DR. Xavier Quentin Pranata, MA   
Monday, 08 December 2008

 

Seorang bocah laki-laki bertanya kepada ibunya, “Ma, mengapa sebagian rambut Mama berubah menjadi putih?”

Ibunya memakai kesempatan ini untuk menegor anaknya secara halus agar tidak bandel dan merepotkannya. “Setiap kali engkau nakal dan berani melawan Mama, sehelai rambut mama berubah menjadi putih,” ujarnya.

“Lho, kalau begitu, mengapa rambut nenek putih semua?” tanya anaknya dengan mata membesar.

Obrolan antara anak laki-laki dan mamanya itu bisa menjadi pelajaran yang berharga bagi kita. Setiap kali kita mencoba ‘menyerang’ orang lain—dengan cara apa pun—seringkali serangan kita bisa berbalik menyerang kita. Persis seperti bumerang, yaitu kayu melengkung yang biasa dipakai penduduk asli Australia—Aborigin—untuk berburu. Saat berada di negeri kanguru itu, saya membeli satu untuk oleh-oleh. Di sampul plastiknya ada tulisan yang terjemahannya berbunyi: “Alat ini akan kembali kepada Anda setelah Anda lempat, jika Anda menggunakannya secara benar!”

Firman Tuhan sangat jelas dan tegas tentang hal ini. Pertama, dalam hal penghakiman. “Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi.   Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu” (Matius 7:1-2). Bukan hanya itu, ukuran itu justru ditambahi. “Lalu Ia berkata lagi: "Camkanlah apa yang kamu dengar! Ukuran yang kamu pakai untuk mengukur akan diukurkan kepadamu, dan di samping itu akan ditambah lagi kepadamu” (Markus 4:24).

 

Kedua, dalam hal pengampunan. Doa Bapa Kami katakan: “Dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami” (Matius 6:12). Di dalam pengampunan juga berlaku hukum sebab akibat. “Dan jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga Bapamu yang di sorga mengampuni kesalahan-kesalahanmu” (Markus 11:25).

 

Ketiga, dalam hal pemberian. Jika kita suka memberi, kita pun akan diberi. “Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu” (Lukas 6:38).

 

Jika kita singkat, maka apa yang kita pelajari dari ketiga ayat di atas disebut “Hukum Tabur Tuai”. Paling tidak ada tiga hal. Pertama, orang yang menabur  yang baik, akan menuai yang baik. Yang menabur yang jahat akan menuai yang buruk pula. “Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu” (Galatia 6:8).

 

Kedua, tuaian akan lebih besar dari apa yang kita tabur. “Sebab mereka menabur angin, maka mereka akan menuai puting beliung; gandum yang belum menguning tidak ada pada mereka; tumbuh-tumbuhan itu tidak menghasilkan tepung; dan jika memberi hasil, maka orang-orang lain menelannya” (Hosea 8:7).

 

Ketiga, jumlah taburan akan menentukan jumlah tuaian. “Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga” (2 Korintus 9:6).

 

Buku dan film The Secret benar dalam hal The Law of Attraction. Salahnya, penulisnya mengajarkan setiap kita untuk menggunakan kekuatan kita sendiri. Seharusnya, kita mengandalkan Tuhan. Jika kita menabur di dalam Tuhan, kita akan menuai secara berkelimpaha. “Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan” (Yohanes 10:10). Mari menabur yang baik dan benar. (Xavier).

 
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>

Results 10 - 10 of 61
Program Ibadah