Advertisement
Monday, 06 September 2010
AKSI DAN REAKSI

Seorang bapak datang ke dokter untuk periksa. Begitu melihat telinga bapak itu terbakar parah, dokter itu bertanya, “Apa yang terjadi?”

“Saat saya sedang menyetrika, telepon berdering. Tanpa sadar saya menempelkan setrika panas ke telinga saya. Saya mengira itu gagang telepon,” ujar bapak itu dengan wajah kesakitan.

“Lalu, mengapa telinga sebelah juga terbakar?” tanya dokter itu heran.

Bapak itu dengan kemarahan yang meluap berkata, “Teman saya yang bodoh itu menelpon lagi!”

Kita bisa saja tertawa membaca kisah di atas, tetapi tanpa sadar kita pun sering melakukan hal yang sama. Saat kita melakukan kesalahan, kecenderungan kita adalah menyalahkan orang lain. Dan biasanya yang menjadi korban adalah bawahan kita. Istilah yang tepat di sini adalah The King can do no wrong! Raja itu tidak mungkin berbuat kesalahan.

Inilah peraturan raja. Peraturan pertama: Raja tidak bisa berbuat salah. Peraturan kedua. Jika raja berbuat salah, lihat peraturan pertama. Ha, ha, ha, sama saja, kan? Oleh sebab itu, ketika ada seorang karyawan konseling kepada saya yang mengatakan bahwa bos-nya selalu menyalahkannya setiap kali ada masalah, saya katakan, “Bapak timbang sendiri. Apakah bapak masih bisa menolerir perilaku bos Bapak. Jika memungkinkan, beri masukan. Jika bos tidak bisa diberi masukan, berpulang kepada Bapak. Jika sudah tidak tahan lagi, ya lebih baik keluar.”

Itulah sebabnya Stephen R. Covey memberikan satu kata solusi yang menarik yaitu proaktif. Pro aktif—berbeda dengan reaktif—adalah memikirkan lebih dulu apa yang kira-kira akan terjadi dan memberikan reaksi secara proaktif. Firman Tuhan menjelaskan indah sekali. “Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik bagi semua orang!   Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!   Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan.   Tetapi, jika seterumu lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah dia minum! Dengan berbuat demikian kamu menumpukkan bara api di atas kepalanya.   Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!” (Roma 12:17-21).

 

Firman Tuhan senantiasa mengajarkan kita untuk melakukan lebih dari yang dituntut. “  Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi.   Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.   Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu.   Dan siapapun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil.   Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu.   Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu.   Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.   Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.   Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian?   Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allahpun berbuat demikian?   Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna"” (Matius 5:38-48). Susah? Iya, tetapi besar pahalanya!


 
< Prev   Next >
Program Ibadah