Advertisement
Monday, 06 September 2010
Bukan Pasangan Idaman

Ada seorang wanita yang sudah setahun menikah. Suatu malam, ketika sang suami sudah tertidur lelap di sampingnya, sang istri masih terjaga. Ditatapnya wajah suaminya, dan sang istri hanya bisa
menggerutu dalam hati, melihat sosok si suami yang sebenarnya jauh dari idaman. Apalagi ketika sang suami mulai mendengkur cukup keras. Akhirnya dia menutup wajah dengan bantal dan mencoba tidur dengan segala kegalauan hati. Namun belum lama terlelap dengan nyenyak, sang istri harus terbangun, karena kaki sang suami menyenggol kakinya. Memang seringkali sang suami banyak gerak tidurnya, dan ini yang kesekiankalinya terjadi kejadian yang sama. Sang istri kaget, dan tanpa sadar untuk pertama kalinya agak membentak suaminya. Sang suami pun terbangun dan langsung meminta maaf. Dengan sabarnya suaminya membujuk istrinya untuk tenang. Setelah beberapa saat, akhirnya sang istri mulai mereda emosinya, kemudian dia bertanya untuk
sebuah pertanyaan yang akhir-akhir ini mengganjal dalam fikirnya, "Mengapa engkau menikahiku?"

Sang suami menghela nafas, tersenyum dan menjawab, "Sebetulnya, memang kamu bukan wanita tipe idamanku, sayangku, tetapi dari sekian waktu yang telah kita lewati bersama dulu, aku telah memilih untuk menjadikanmu pasangan hidup yang akan selalu kuperhatikan, kusayangi, dan kucintai untuk selamanya. Aku sadar, kalau aku selalu mencari sosok idaman, mungkin akan
kudapatkan, tapi mungkin juga aku hanya akan selalu mencari dan mencarinya hingga Tuhan memanggilku, karena bisa jadi aku takkan pernah punya kesempatan bertemu dengan sosok idamanku itu atau malah dia akan menghindar untuk mencari idamannya juga. Jadi, kapan waktuku untuk membina keluarga? Untuk menyayangi dan disayangi seseorang?"

Saat mendengar hal itu, sang istri terhenyak. Penjelasan yang sederhana dan jauh dari egois. Sang istri tiba-tiba merasa sangat bersyukur telah "diberi kesempatan" untuk berkeluarga dan rasa cinta pada sang suami yang sempat ia pertanyakan sendiri, tiba-tiba tumbuh begitu dahsyat disertai sebuah kekaguman yang luar biasa, sehingga air mata haru pun tak terasa menetes.

Mulai saat itu, tak pernah lagi sang istri mengingat-ingat sosok idamannya. Sosok itu telah dia kubur dalam-dalam, dan dia mulai dapat menerima suaminya dengan segala kekurangan yang ada dan rasa syukur pun menjadi pengingat senyumnya di setiap waktu.

Kisah yang dikirimkan oleh Agus kepada saya itu sungguh pas dengan pertanyaan seorang gadis, “Mana yang harus saya pilih? Menikah dengan seorang Kristen yang karakternya buruk atau yang non-Kristen tetapi karakternya baik?” Jawabannya sederhana saja, “Jangan pilih keduanya!”

Kalau begitu, apakah kita tidak terlalu memilih? Tidak juga! Setiap orang boleh memilih pasangan hidupnya, tetapi kita tidak boleh asal memilih, apalagi sembarangan memilih. Kita harus memilih yang seiman. Itu yang nomor satu. Yang nomor dua adalah pasangan yang juga mengasihi Anda. Masa Anda menikah tetapi bertepuk sebelah tangan? Kita akan sengsara seumur hidup. Ketiga, pilih yang karakternya baik. Keempat, pilih yang sudah dewasa. Kelima, pria yang sudah mandiri. Selanjutnya, optional: kaya, tampan, romantis dan sebagainya.

Jadi, ada hal-hal yang boleh Anda turunkan standarnya, tetapi ada yang tidak boleh Anda kurangi sedikit pun. Ringkasnya, carilah pasangan yang seiman, sepenanggungan dan sepelayanan. Saya percaya, Tuhan punya kerinduan yang sama agar setiap kita mendapatkan pasangan yang datangnya dari Tuhan. Institusi yang pertama Tuhan ciptakan adalah lembaga pernikahan.
 
< Prev   Next >
Program Ibadah